Penambangan Liar di Kalimantan Selatan Kian Marak
Written By Coal Model on 12/11/2013 | 2:24 pm
TEMPO.CO, Banjarmasin - Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan Brigadir Jenderal Machfud Arifin mengatakan penambangan liar makin marak sehingga perlu ditertibkan. “Kondisi (lingkungan) sudah sangat memprihatinkan,” kata dia, Rabu, 11 Desember 2013.
Menurut Machfud, ada dua modus operandi yang digunakan dalam penambangan batu bara ilegal. Pertama, pemilik lahan menawarkan lokasi yang diketahui memiliki kandungan batu bara kepada pengusaha, meskipun tidak memiliki izin usaha pertambangan (IUP).
Kedua, pengusaha pertambangan kerap mengubah titik koordinat yang menjadi lokasi penambangan. Ini, kata Machfud, bertentangan dengan ketentuan karena lahan penambangannya tidak sesuai dengan dokumen. Menurut Machfud, sepanjang Januari-November 2013 ada 122 kasus penambangan liar. Sebanyak 33 kasus di antaranya dalam tahap penyelidikan. Sedangkan jumlah tersangka 89 orang.
Barang bukti yang disita selama operasi penertiban berupa 120 unit ekskavator, 6 unit buldoser, 4 unit dump truck, 11 unit tronton, 6 unit loader, 1 unit kendaraan beroda empat, 1 unit laptop, 6 plastik berisi emas, 200 metrik kubik batu gunung dan 211.886 metrik ton batu bara.
Kasus lain yang diungkap Polda Kalimantan Selatan adalah penyalahgunaan narkoba. Selama periode Januari-6 Desember 2013 terdapat 1.272 kasus narkoba dengan 1.691 orang tersangka. Enam orang di antaranya berstatus mahasiswa. Barang bukti yang disita berupa ganja seberat 1.634,18 gram, ekstasi 2.677 butir, dan sabu 4.744 gram.
Sedangkan pembalakan liar periode Januari-November 2013 tercatat sebanyak 62 kasus dengan 63 orang tersangka. Barang bukti yang disita di antaranya kayu ulin 4.527 batang, karuing 183 batang, kayu pelat 35 potong, dump truck 22 unit, kendaraan beroda empat 11 unit, perahu kelotok 1 unit, dan kapal besi 1 unit.
Polda Kalimantan Timur juga menangani 204 kasus penyalahgunaan BBM bersubsidi selama Januari-November 2013. Sebanyak 210 orang dijadikan tersangka. Barang bukti teridiri atas solar 416.564 liter, minyak tanah 22.440 liter, dan bensin Premium 26.780 liter.
Polisi juga menyita 2 unit truk, 37 unit kendaraan beroda empat, 2 unit kendaraan beroda dua, 1.767 buah jerigen, 186 buah drum, 7 buah pompa, 18 unit kapal, 4 unit perahu kelotok, 16 buah tandon, 6 buah alkon, 24 unit tangki, dan uang tunai Rp 88 juta. Adapun dalam soal kasus korupsi, terdapat 44 orang tersangka dari 34 kasus. Kerugian negara mencapai Rp 23,9 miliar. Modusnya, penyalahgunaan wewenang dan penggelembungan harga.
DIANANTA P. SUMEDI
Mulai 12 Januari 2014, Pemerintah Larang Ekspor Mineral Mentah
Written By Coal Model on 12/10/2013 | 5:42 pm
Sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara, pemerintah akan menjalankan kebijakan penghentian semua ekspor bahan mentah mineral untuk selanjutnya dlakukan pemurnian didalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah produk mineral. Kebijakan yang didukung seluruh fraksi Komisi VII DPR RI ini akan dilaksanakan tanpa terkecuali dan mulai berlaku tanggal 12 Januari 2014.
“Lima tahun sejak tahun 2009, ekspor mineral harus dikendalikan dan harus membuat smelter. Tujuan dari undang-undang itu sangat mulia agar mineral mentah jangan diekspor, yang dulu awal-awal jadi Menteri ESDM saya katakan jangan mengekspor tanah air,” ujar Menteri ESDM di Jakarta, Kamis (6/12).
Pasal 103 ayat (1) jo. Pasal 170 Undang-Undang No. 4 tahun 2009, mewajibkan pemegang Kontrak Karya (KK) dan sudah berproduksi untuk melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangannya didalam negeri dalam jangka waktu paling lambat lima tahun sejak undang-undang no. 4 tahun 2009 diterbitakan.
Pemerintah akan konsisten melaksanakan amanat pasal 103 ayat (1) Jo. pasall 170 UU no.4/2009 dan pasal 112 PP 23/2010 agar kegiatan pengolahan dan pemurnian didalam dapat dilaksanakan sepenuhnya mulai tanggal 12 januari 2014. “Didukung Sembilan Fraksi Komisi VII DPR RI, Pemerintah akan menjalankan amanah secara penuh dan konsisten,” tambahnya.
Dukungan Sembilan fraksi dalam melaksanakan kebijakan ini merupakan cerminan dukungan rakyat Indonesia meski pada tahap awal akan menimbulkan sedikit gejolak namun ini semua merupakan keputusan yang terbaik untuk kepentingan bangsa Indonesia. “Tentu ini akan bagus bagi negeri, tetapi nanti untuk sementara akan gaduh, karena tentu pengurangan ekspor, menekan ekspor menutup eksport awal-awalnya pasti ada perusahaan kelabakanlah sedikit,” ujar Wacik.
Selanjutnya Menteri berpesan kepada perusahaan-perusahaan yang akan terkena untuk melakukan penyesuaian, smelter yang sedang dikerjakan akan dpercepat jadinya, sehingga tambang-tambang yang berhenti berproduksi sesaat karena berlakukanya undang-undang ini, akan kembali berproduksi setelah smelternya sudah jadi. Pembangunan smelter lanjut Menteri tidak akan memakan waktu lama, diperkirakan tidak sampai dengan tiga tahun justru menurutnya jika ditunda-tunda waktunya hingga tiga tahun bahkan enam tahunpun belum tentu selesai. (US)
Sumber: Energytoday.com
Produksi Batu Bara Stagnan di 2014
Pada tahun 2014, Kementerian ESDM memproyeksikan produksi batu bara nasional akan stagnan. Untuk itu Pemerintah berupaya untuk menahan peningkatan produksi dari masing-maisng perusahaan.
Menurut Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM, Edi Prasodjo, pihaknya tidak akan memberikan persetujuan kepada beberapa perusahaan untuk meningkatkan produksi batu bara di tahun depan.
"Dalam rancangan kerja anggaran dan belanja (RKAB), terdapat rencana produksi. Kami akan bertahan di sana, menjadi sekitar 390 juta ton," katanya seperti yang dilansir harian Kontan, Jakarta, Selasa (10/12).
Edi mengungkapkan, selama beberapa tahun terakhir ini, jumlah produksi batu bara yang meningkat pesat justru menekan harga jual batu bara. Oleh karena itu, Pemerintah bermaksud mengerem produksi.Selama ini, tambahnya, peningkatan produksi yang tak terkontrol juga membawa dampak lingkungan serta penurunan jumlah cadangan. (us)
Sumber : Energitoday.com
Pemerintah Indonesia Harapkan Akhir Tahun Ini Ada Listrik Dari CBM
Written By Odezz on 7/20/2011 | 2:25 pm
“Pemerintah saat ini sedang mengurus pemanfaatan gas CBM untuk listrik diharapkan akhir tahun ini (2011) sudah ada listrik dari gas CBM,”ujar Direktur Jenderal Migas Evita H. Legowo usai mengumumkan Pemenang Lelang WK Gas Metana Batubara tahun 2011, Kamis (14/7/2011).
Namun demikian, “kami sebagai Pemerintah sangat menyadari bahwa CBM ini sebagai barang baru, oleh karena itu kami siap seandainya didalam perjalanannya ada hal-hal yang perlu diperbaiki,”lanjutnya.
Tingkat keberhasilan eksplorasi gas metana batu bara (coal bed methane/CBM) lebih besar dibandingkan eksplorasi minyak dan gas bumi konvensional karena lapisan batu bara selain bertindak sebagai source rock, juga sekaligus sebagai reservoir.
Sifat kedalaman pengeboran CBM relatif lebih dangkal bila dibandingkan dengan gas konvensional, tidak migrasi dan terserap pada pori-pori mikro. Sementara gas konvensional, biasanya memerlukan pengeboran yang relatif dalam, migrasi serta mengambang.
Berdasarkan road map pengembangan CBM di Indonesia, ditargetkan pada tahun 2011 dapat dihasilkan 9,25 MMSCFD dari 7 wilayah kerja CBM. Gas tersebut ekivalen dengan 23,01 MW. Pada 2015, ditargetkan dapat dihasilkan gas sebesar 500 MMSCFD, 1000 MMSCFD pada tahun 2020 dan 1.500 MMSCFD pada tahun 2015 mendatang. Total sumber daya CBM Indonesia mencapai 453,3 TCF yang tersebar 55 dalam 11 cekungan. (SF)
Sumber: ESDM
Borneo & Harum Energy akan IPO
Written By Odezz on 2/10/2010 | 9:39 pm
Saat ini momentum tepat perusahaan tambang masuk bursa
Beberapa bankir investasi yang mengetahui informasi itu mengatakan Borneo Energi, perusahaan yang terafiliasi dengan Renaissance Capital, dan Harum Energy, yang dikuasai oleh Grup Tanito Harum dan dikendalikan oleh pengusaha pertambangan Kiki Barki, telah menunjuk calon penjamin emisi (underwriter).
"Borneo Energi menargetkan dana US$200 juta-US$300 juta [setara dengan Rp1,87 triliun-Rp2,81 triliun, sedangkan Harum Energy mengincar US$300 juta-US$400 juta [setara dengan Rp2,81 triliun-Rp3,74 triliun]," ujarnya kepada Bisnis kemarin.
Menurut rencana, Borneo, yang memiliki 100% saham PT Asmin Koalindo Tuhup di Kalimantan Tengah, perusahaan tambang batu bara berkalori tinggi (coking coal), akan melepas 20%-25% saham ke pasar.
Borneo, ujarnya, menunjuk CIMB Securities sebagai penjamin emisi untuk pasar domestik dan regional. CIMB kemungkinan dibantu oleh Sinarmas Sekuritas.
Perusahaan tambang itu juga dalam proses menunjuk underwriter untuk menangani penjualan saham di pasar internasional. "Kemungkinan mengarah ke Morgan Stanley Asia Indonesia [yang kini dipimpin oleh Presiden Direktur Andy Purwohardono, mantan Dirut PT Danareksa Sekuritas]," tuturnya.
Sumber: Publikasi dan surat kabar, diolah
Ket.: *) Realisasi
Ketika dikonfirmasi, I Wayan Gemuh, Head of Corporate Finance CIMB Securities, mengatakan tidak bisa berkomentar soal itu. Hardianto, Direktur Borneo, mengatakan belum mengetahui soal rencana IPO saham perseroan.
Tingkatkan produksi
Menurut sumber Bisnis, Borneo akan menggunakan sebagian dana yang diperoleh dari IPO untuk meningkatkan produksi dari kapasitas 3,6 juta ton menjadi 5 juta ton per tahun.Asmin Koalindo Tuhup kini menghasilkan batu bara dengan kapasitas terpasang 2,4 juta ton per tahun dan sedang dalam proses pembelian peralatan tambahan dan peningkatan infrastruktur agar dapat mencapai kapasitas 3,6 juta per tahun sebelum Agustus tahun ini.
"Dana hasil IPO selebihnya akan digunakan untuk melunasi utang kepada konsorsium bank lokal dan asing," ujarnya. Kalori batu bara yang dihasilkan oleh Asmin Tuhup mencapai 8.200 kcal dan komoditas itu seluruhnya dijual di pasar ekspor. Harga batu bara jenis hard coking saat ini mencapai US$175 per ton. Total sumber daya yang terkuantifikasi tambang itu mencapai 240 juta ton.
Harum Energy, ujar bankir investasi itu, menunjuk empat penjamin emisi yakni Goldman Sachs, Deutsche Securities, Mandiri Sekuritas, dan Ciptadana Securities. Goldman dan Deutsche nantinya membantu penjualan saham di pasar luar negeri, sedangkan Mandiri dan Ciptadana menangani pasar domestik,
Presiden Direktur Ciptadana Ferry Budiman Tanja tidak berhasil dihubungi ketika dikonfirmasi mengenai rencana IPO Harum Energy. Direktur Investment Bank Mandiri Sekuritas Iman Rachman menolak berkomentar. "Lebih baik tanyakan saja mengenai hal itu kepada emiten."
Harum Energy pada akhir tahun lalu mencari utang senilai US$200 juta guna membiayai kembali utang dan modal kerja perusahaan. Harum telah menunjuk DBS Group Holdings Ltd untuk mencari utang itu.
Analis PT AAA Sekuritas Herman Koeswanto menilai tahun ini merupakan momentum tepat IPO perusahaan tambang dan energi, di tengah tingginya valuasi saham sektor tersebut.
"Dengan valuasi saham industri yang tinggi, calon emiten baru berpotensi besar mendapat valuasi harga yang tinggi juga. Jika mereka memiliki kapasitas fundamental setara dengan emiten di bursa sekarang, tentu valuasinya ikut terangkat," tuturnya.
Analis PT Danareksa Sekuritas Metty Fauziah menilai harga batu bara sepanjang 2010 berkisar di level US$85 per metrik ton, menyusul pemulihan ekonomi dunia.
"Permintaan batu bara dari China masih tinggi karena mayoritas pembangkit listrik di sana menggunakan batu bara. Proyek 10.000 megawatt tahap dua di Indonesia juga masih menggunakan batu bara," ujarnya. (irvin.avriano@bisnis.co.id/arif.gunawan@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id)
Oleh Irvin Avriano A., Arif Gunawan S. & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
BHP Targetkan Produksi Batubara 40 Juta Ton/tahun
Written By Odezz on 2/05/2010 | 9:43 am
Juru bicara BHP Billiton Indra Diannanjaya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR yang dipimpin ketuanya, Teuku Riefky Harsya di Jakarta, Rabu mengatakan, pencapaian produksi itu terdiri dari tiga fase. "Kami sudah presentasikan hal ini di Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) awal bulan ini," katanya. Menurut dia, fase pertama adalah pengembangan awal dengan tingkat produksi batu bara sebesar enam juta ton per tahun.
Pada fase awal ini, transportasi yang dipakai adalah memakai tongkang. "Target fase pertama adalah 2014," katanya. Selanjutnya, fase ekspansi ditargetkan mencapai 11 juta ton per tahun dengan moda transportasi tongkang dan kereta api.
Terakhir, Indra mengatakan, merupakan fase pengembangan tertinggi dengan target 40 juta ton per tahun dan memakai moda kereta api dan tongkang. Menurut dia, sampai Desember 20009, pihaknya sudah mengeluarkan investasi sebesar 278 juta dolar AS.
Untuk fase pertama, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai 500 juta sampai satu miliar dolar AS, fase kedua 2-3 miliar dolar AS, dan fase ketiga lebih dari tiga miliar dolar AS.
BHP memiliki tujuh perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B) yakni Maruwai, Kalteng, Sumber Barito, Pari, Juloi, Lahai, dan Ratah.
Produksi Lahai di Blok Haju ditargetkan mulai 2010, Maruwai 2013, Kalteng, Sumber Barito, Pari, dan Ratah mulai 2014, sedang Juloi dan Lahai mulai 2015. Menurut dia, Kalteng, Sumber Barito, dan Juloi masuk dalam fase pertama dengan target produksi enam juta ton per tahun.
Fase kedua mencakup fase pertama dan ditambah Maruwai, ekspansi Juloi, pelabuhan tongkang antara di Teluk Timbau, dan kemungkinan pembangunan jaringan kereta api.
Sedang fase terakhir adalah ekspansi fase kedua dan pembangunan kereta api ke Teluk Timbau atau kereta api ke pantai Kaltim.
Indra menambahkan, target-target tersebut tercapai tergantung berbagai faktor termasuk perijinan dan persetujuan pemerintah, selesainya studi kelayakan, dan kondisi pasar saat itu.
"Kami akan tunduk pada hukum termasuk tidak boleh di hutan lindung," katanya. (smbr)
Sumber : Antara, Jakarta 27 Januari 2010
SOP Penulisan Laporan Eksplorasi
Written By Odezz on 12/13/2009 | 5:13 pm
Beberapa perusahaan tambang batubara masih ada yang kurang memperhatikan penyelidikan detail terhadap kondisi bahan galian yang akan ditambang, besarnya cadangan, struktur geologi, kondisi air tanah, dan perubahan lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan penambangan tersebut.
Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan tersebut diatas maka perlu dilakukan penyelidikan yang susuai dengan prosedur yang benar sesuai dengan tahapan-tahapannya. Setahu saya, umumnya tahapan ini dibagi menjadi 4 (empat) tahapan eksplorasi, yaitu :
- Survey Tinjau / Reconnaissance
- Prospeksi / Prospecting
- Survey Pendahuluan / Preliminary Exploration
- Eksplorasi Rinci / Detailed Exploration
Untuk lebih jelas mengenai tahapan eksplorasi dan standard operation procedure tentang penulisan laporan eksplorasi dapat anda lihat publikasi dari BSN - Badan Standardisasi Nasional Indonesia, dan Australian Code For Reporting of Mineral Resources and Ore Reserves (The JORC Code) dibawah ini :
1. SNI (Klasifikasi Sumberdaya & Cadangan Batubara)
Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara -
2. Penyusunan Berdasarkan JORC Code 2004
JORC Code 2004 -
Pedoman Klasifikasi Perhitungan Cadangan Sumberdaya Mineral & Batubara
Anda juga dapat merujuk pada klasifikasi Sumberdaya Mineral berdasarkan SNI dan JORC
Coal Mining Methods
Written By Odezz on 12/09/2009 | 9:58 pm
Ada 2 metode penambangan batubara, yaitu:
- Tambang Terbuka / Open Pit Mining/ Surface Mining” dan
- Tambang Tertutup / Underground Mining
Surface Mining / Tambang Terbuka
Surface Mining - juga dikenal sebagai opencast atau opencut – metode ini akan lebih bernilai ekonomis jika lapisan batubara dekat dengan permukaan. Metode ini memiliki proporsi Recovery Batubara lebih baik atau lebih tinggi daripada tambang bawah tanah, Recovery mencapai 90% atau lebih dari batubara yang akan ditambang.
Tambang terbuka dapat mencakup wilayah yang sangat luas, dengan menggunakan perlengkapan alat berat yang bervariasi, pemilihan alat berat yang digunakan tergantung dari perhitungan ekonomis suatu deposit batubara, alat berat tersebut adalah :
- Driglines
- Power Sovel / Excavator
- Dump Truck (Mining Truck)
- Buldozer
- Bucket Wheel Excavator
- Conveyors
Underground Mining / Tambang Tertutup
Ada dua metode penambangan bawah tanah/ tambang tertutup: room-and-pillar dan longwall mining.
Room & Pillar Mining
Pada metode ini, deposit batubara yang ditambang dengan membuat jaringan ‘ruangan’ didalam lapisan batubara dan menyisakannya sebagai 'pilar' batubara untuk mendukung atap tambang. Pilar ini dapat mencapai 40% dari total batubara, kadang-kadang jika memungkinkan pillar batubara tersebut dapat di tambang pada fase berikutnya.
Longwall Mining, metode ini bertujuan memaksimalkan recovery pengambilan batubara / ekstraksi batubara, atau 'face' / permukaan dengan menggunakan alat pengupas mekanis. Metode ini dibutuhkan perencanaan yang akurat, dan harus dipastikan kondisi geologi batubaranya ada di seluruh bagian sebelum pekerjaan pembangunan dimulai. permukaan batubara yang akan dipotong bervariasi panjangnya dari 100-350m. Hydraulically-powered menyangga lapisan atap sementara terus naik ke atap dan batubara diekstrak. Ketika batubara telah diekstraksi, atap akan runtuh dalam kondisi tertentu. Lebih dari 75% dari deposit batubara yang dapat dicover dari panelbatu bara.
Kemajuan teknologi telah membuat pertambangan batubara saat ini lebih produktif dari sebelumnya. Untuk mengikuti perkembangan teknologi dan untuk mengambil batu bara seefisien mungkin harus memiliki pekerja tambang yang sangat terampil dan terlatih dalam penggunaan instrumen dan peralatan.
Sumber: Dari berbagai sumber





